Saya harap Anda mempunyai waktu untuk melatih beberapa
teknik yang saya jelaskan pada bagian pertama, Tips Meningkatkan Penjualan: Pelajari Keahlian Ini dan
Penjualan Anda Akan Naik Dua Kali Lipat! (Bagian 1).
Saya juga berharap
Anda sudah mengamati dan menemukan bahwa prinsip 1 dan 2 yang telah dijelaskan
pada bagian pertama seringkali membuat Anda berhasil pada waktu Anda sedang
mencoba untuk menjual sesuatu kepada pelanggan.
Untuk para pembaca yang tidak sempat membaca bagian pertama,
ini ringkasannya.
Prinsip No. 1
Bila konsumen merasa tidak yakin dengan perasaannya, bila ia
tidak yakin 100% apakah ia harus membeli atau tidak, biasanya jawaban yang akan
diberikannya adalah ”tidak”. Maka, seringkali ia mencari rasa aman dan bahkan
sedikit ”dorongan” dari si penjual untuk membantunya membuat keputusan
melakukan pembelian.
Jika si penjual gagal mendeteksi hal ini dan tidak berusaha
untuk meyakinkan atau memberikan sedikit ”dorongan”, maka si pelanggan akan
merasa ragu-ragu. Dalam kondisi yang ragu-ragu, seringkali ia akan menjawab
”tidak”, atau ”nanti saya pikirkan lagi”, dan lain-lain… lalu kesempatan untuk
melakukan penjualan akan hilang!
Jadi, adalah merupakan tanggung jawab si
penjual untuk mendeteksi sinyal-sinyal ini (untuk berhenti berbicara!) dan
memberikan sedikit ”dorongan” kepada si pelanggan agar ia dapat melakukan
pembelian.
Prinsip No. 2
Kebanyakan pelanggan yang telah memutuskan untuk membeli
tidak akan secara eksplisit mengatakan, ”Oke, saya akan membeli!” Walaupun hati
mereka sudah mengatakan ”oke”, bibir mereka tidak akan mengatakannya.
Maka, jika si penjual tetap menunggu si pelanggan untuk
secara eksplisit ”oke”, seringkali si penjual akan KEHILANGAN penjualan! Bukan merupakan tanggung jawab pelanggan untuk mengatakan
”Oke, saya akan membeli”. Adalahtanggung jawab si penjual untuk
mendeteksi hal ini dengan cara mengamati mata dan bahasa tubuh si pelanggan,
lalu menutup penjualan. Jika penjual mampu mendeteksi sinyal-sinyal ini, ia
tidak akan menemukan hambatan berarti dari pelanggan!
Saya sudah melatih banyak tenaga penjual selama
bertahun-tahun. Saya amati mereka melakukan role-playing di
kelas, dan seringkali saya ikuti mereka sewaktu mengunjungi pelanggan. Saya
amati bagaimana mereka menjual. Banyak tenaga penjual merasa kurang efektif
dalam menangani keluhan pelanggan. Secara konsekuen, mereka berusaha
mengembangkan kemampuan dalam menangani keluhan pelanggan dengan efektif.
Usaha mereka membuahkan hasil, mereka berkembang, performa
penjualan mereka meningkat, mereka senang, dan bos mereka pun senang. Tetapi
bagi saya, hal itu baru 45-60% dari seluruh potensi mereka. Sewaktu saya amati
presentasi mereka, sebenarnya mereka bisa menutup penjualan dua kali
lebih banyakatau dua kali lebih cepat, bila mereka mampu
mengembangkan satu keahlian lain. Masalahnya: kebanyakan tenaga penjual tidak
tahu kapan saatnya untuk BERHENTI BICARA! Acap kali saya hampir saja
menginterupsi dan memberitahu mereka untuk DIAM dan segera MENUTUP PENJUALAN!
Ada satu keahlian yang dilewati oleh banyak tenaga penjual.
Kebanyakan mereka bahkan tidak pernah menyadarinya! Karena itulah mereka
melewatinya. Akibatnya, mereka jadi tidak efektif melakukannya. Lantaran tidak
efektif, maka dampaknya bisa buruk pada performa penjualan mereka.
Apakah keahlian yang sangat penting tersebut? Ini adalah
kemampuan tenaga penjual untuk mengamati, mengenali dan mendeteksi buying
signal dari pelanggan—mata dan bahasa tubuh pelanggan yang mengatakan
bahwa ”saya siap untuk membeli”.
Dalam bagian pertama, saya sudah mendeskripsikan empat
”buying signal” umum yang harus dipelajari sewaktu mereka berbicara dengan
pelanggan. Dalam bagian kedua ini saya akan memaparkan lebih banyak lagi buying
signal yang dapat membantu Anda mengerti apa yang sedang dipikirkan
oleh pelanggan dan kapan Anda harus berhenti bicara lalu menutup penjualan:
5. Suami dan istri saling berpandangan satu
sama lain. Setelah Anda menyelesaikan presentasi, pasangan suami
istri saling berpandangan seakan bertanya, ”Bagaimana menurutmu?” Bila Anda
melihat sinyal tersebut, ini adalah suatu tanda yang sangat jelas bahwa mereka
berdua secara prinsip SETUJU (setidaknya mereka tidak mempunyai keberatan yang
berarti). Ini adalah kabar sangat baik untuk si penjual!
Ingat prinsip nomor
2—mereka tidak akan secara eksplisit mengatakan ”ya”. Mereka akan menunggu
sampai salah satu (suami atau istri) mengatakan sesuatu.
Kebanyakan, mereka akan akan berkata ”tidak” (prinsip nomor
1), dan Anda akan berada dalam masalah! Jadi JANGAN TUNGGU sampai itu terjadi!
Bila Anda melihat sinyal ini, HENTIKAN presentasi.
Mendekatlah, gunakan suara
normal dan menyenangkan (dengan sedikit senyuman), lalu katakan, ”Bapak Anton,
bagaimana kalau Bapak mencoba produk kami?” Bantulah dia membuat keputusan
untuk membeli! Bila Anda hanya menunggu jawaban dengan pasif, Anda akan
kehilangan penjualan!
6. Pelanggan mengetuk-ngetukkan jari-jarinya
ke meja. Setelah Anda menyelesaikan presentasi, si pelanggan
mengetuk-ngetukkan jari ke meja. Ini adalah sinyal yang sangat jelas
bahwa ia sedang BERPIKIR—apakah dia akan melakukan pembelian atau tidak. Jika
Anda menunggu sampai dia mengatakan sesuatu, seringkali dia akan mengatakan
”tidak” (prinsip nomor 1), dan Anda akan berada dalam masalah!
Jadi bila Anda melihat pelanggan mengetuk-ngetukkan jarinya
di atas meja, itu adalah buying signal. HENTIKAN presentasi,
mendekatlah, gunakan suara normal, lembut dan menyenangkan (dengan sedikit
senyuman) dan katakan, ”Bapak Anton, bagaimana kalau Bapak mencoba produk
kami?” Jangan hanya menunggu dengan pasif sampai dia mengucapkan sesuatu. Bantu
dia membuat keputusan untuk membeli!
7. Pelanggan menarik nafas dan melihat ke
bawah ke arah meja. Ini adalah variasi dari nomor 6 tadi. Jadi, bila
Anda melihat pelanggan melakukan hal tersebut, ini adalah sinyal jelas bahwa
dia sedang BERPIKIR—apakah dia membeli atau tidak. HENTIKAN presentasi,
mendekatlah, gunakan suara normal, lembut dan menyenangkan (plus sedikit
senyuman) dan katakan, ”Bapak Anton, bagaimana kalau bapak mencoba produk
kami?” Bantulah dia membuat keputusan untuk melakukan pembelian! Jika Anda
hanya menunggu dengan pasif sampai dia berkata sesuatu, Anda bakal kehilangan
penjualan!
8. Pelanggan terlihat gugup. Buying
signal lain yang jelas adalah jika setelah Anda menyelesaikan
presentasi, si pelanggan membasahi bibirnya, memainkan tangannya, mengganti
posisi duduknya, bermain-main dengan rambutnya, menyentuh telinganya, memainkan
cincin di tangannya, memainkan rokoknya, dan lain-lain. Ini semua adalah sinyal
yang jelas bahwa si pelanggan tidak dapat dan merasa takut membuat keputusan.
Dia perlu bantuan! Jadi HENTIKAN presentasi Anda, mendekatlah, gunakan suara
normal, lembut dan menyenangkan (dengan sedikit senyuman), lalu katakan, ”Bapak
Anton, bagaimana kalau bapak mencoba produk kami?” Bantulah dia membuat
keputusan!
9. Pelanggan menanyakan pertanyaan yang sama. Jika
setelah presentasi, pelanggan menanyakan pertanyaan yang sudah dia tanyakan
sebelumnya, dan sudah Anda jawab juga sebelumnya, ini merupakanbuying
signal yang lain. Pelanggan meminta klarifikasi dan konfirmasi final
dari Anda. Jawablah pertanyaan ini dengan yakin dan isilah formulir pemesanan
dengan yakin pula. Perjanjian sudah selesai! Sungguh mengejutkan bahwa banyak
penjual melewatkan peluang ini dengan terus menjelaskan produknya, atau tetap
menunggu jawaban ”ya” dari pelanggan dengan pasif. Mengapa menunggu? Si
pelanggan sudah yakin 85%! Isilah formulir pembeliannya!
Jadi Anda telah mempelajari 5 buying signal yang
lain. Buying signal ini terjadi setiap hari di depan mata kita
sendiri. Mata yang tak terlatih akan melewatkan kesempatan tersebut dan
terus-menerus kehilangan penjualan. Mata yang terlatih akan mampu mendeteksi
semuanya dan akan menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk menutup
penjualan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar